Suatu ketika saat berdiskusi dengan adik kelas, penulis pernah mendapatkan pertanyaan, "Bagaimana cara mengetahui suatu informasi itu benar atau tidak?". Pertanyaan tersebut kemudian mengingatkan penulis pada sebuah fenomena yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu ketika menerima suatu informasi, sebagian orang cenderung lebih dahulu melihat siapa yang menyampaikannya daripada menelaah isi argumentasinya. Jika pembawanya berasal dari tokoh yang dipercaya, maka informasi tersebut lebih mudah diterima. Sebaliknya, jika berasal dari orang yang kurang dikenal atau tidak berasal dari kelompok yang disukai, informasi tersebut lebih mudah dicurigai, bahkan ditolak sebelum sempat dipertimbangkan isinya.
Fenomena semacam ini dapat dijumpai dalam berbagai bidang, mulai dari kesehatan, agama, pendidikan, hingga politik. Tidak jarang perdebatan yang seharusnya berfokus pada data dan argumentasi, justru berubah menjadi perdebatan tentang identitas, gelar, jabatan, atau afiliasi seseorang. Akibatnya, penilaian terhadap suatu informasi sering kali dipengaruhi oleh berbagai prasangka dan kecenderungan pribadi. Padahal informasi yang dinilai bisa jadi sama, namun hasil penilaiannya berbeda. Misal seperti yang pernah dialami penulis saat mengajar kegiatan pembinaan kecerdasan dan moral remaja ke siswa pelajar tingkat SMA.
Saat itu penulis menyampaikan materi terkait mengkaji ayat-ayat Allah menggunakan rasional dan ilmu pengetahuan, yang mana materi tersebut merupakan pengetahuan dasar dari pembentukan moral. Ketika menyampaikan hal tersebut, ada siswa yang menolak karena merasa yang menyampaikan bukan ustazah atau bukan berasal dari lulusan perguruan tinggi ternama. Namun ketika yang menyampaikan adalah salah satu ustaz atau ustazah yang secara identitas sudah cukup viral dan banyak pengikutnya di media sosial, apa yang disampaikan langsung diterima begitu saja, karena dianggap sudah pasti benar dan berasal dari pihak yang dipandang ahli.
Dari sini muncul pertanyaan yang menarik, jika manusia menginginkan kebenaran, mengapa kita sering kesulitan menilai informasi secara objektif? Mengapa kita sering terjebak pada subjektivitas? Hal apa saja yang memengaruhinya? Lalu bagaimana cara menyikapi berbagai informasi yang kita terima?
Objektif itu Tidak Semudah yang Kita Bayangkan
Menurut KBBI, yang dimaksud dengan objektif yaitu keadaan yang sebenarnya, tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Dengan begitu jika kita ingin menilai informasi secara objektif, maka penilaian yang dilakukan seharusnya berdasarkan fakta yang sebenarnya, tanpa dipengaruhi oleh perasaan, opini, atau kepentingan pribadi.
Namun dalam penerapannya, ternyata objektif itu tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak orang yang merasa dirinya sudah objektif, namun ternyata dalam praktiknya ketika mendapatkan informasi, sangat susah menilai secara objektif karena dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: pengalaman, keyakinan, kesukaan, ketidaksukaan, dan kepentingan.
Ketika Nama Lebih Dipercaya daripada Isi Pesan
Dalam menilai suatu informasi, masyarakat sering menggunakan identitas pembicara sebagai jalan pintas, misalnya:
-
Dalam hal kesehatan: ada dokter, ada lembaga kesehatan seperti WHO.
-
Dalam hal agama: ada tokoh agama.
-
Dalam hal akademik: ada profesor.
-
Dalam hal media sosial: ada influencer.
Pertanyaannya, apakah suatu informasi menjadi benar hanya karena melihat dari identitas pembicaranya saja? Semakin terkenal seseorang, maka semakin mudah dipercaya. Dan sebaliknya, semakin tidak dikenal seseorang, maka semakin mudah dicurigai. Sebenarnya hal seperti ini wajar sampai batas tertentu, karena kita pun tidak mungkin menguasai dan menjadi ahli di semua bidang tersebut. Bahkan kita sering diajarkan bahwa untuk menyelesaikan suatu masalah, harus diserahkan kepada ahlinya. Jika kita tidak menguasainya, maka serahkan kepada ahlinya, bisa dengan bertanya dan berdiskusi langsung atau mempelajari ilmu pengetahuannya melalui buku hasil karya para ahli.
Di lingkungan masyarakat pun juga sering dijumpai ungkapan: "Ikutilah pendapat para ahli." Nasihat tersebut pada dasarnya benar, namun akan menjadi keliru dan memunculkan masalah ketika anjuran untuk menghormati keahlian berubah menjadi larangan untuk menguji kebenaran suatu argumentasi. Akibatnya, seseorang tidak lagi bertanya: "Apa alasannya atau apa pendasarannya?", melainkan cukup bertanya, "Siapa yang meyakinkannya?"
Padahal faktanya, ahli pun bisa keliru. Seorang dokter yang dianggap ahli dalam hal kesehatan, pun bisa keliru dalam hal diagnosis dan disebut dengan malapraktik. Seorang dai yang dianggap ahli dalam hal agama, juga bisa keliru dalam menyampaikan materi saat ceramah. Oleh karena itu, untuk bisa menilai suatu informasi bernilai benar atau salah, seharusnya kembali kepada bukti (fakta), argumentasi, dan realitas. Jangan sampai reputasi (nama, identitas), menggantikan proses berpikir.
Contohnya dalam hal kesehatan, yakni ketika pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, yang mana ada seorang dokter hewan yang juga meneliti tentang virus, menyampaikan tentang hasil penelitiannya terkait virus Covid-19. Untuk mencegah Covid-19, menurutnya, bisa dilakukan dengan cara cuci hidung menggunakan larutan garam non-yodium 1%. Bagi sebagian masyarakat dan yang paling mudah dijumpai yakni melalui media sosial, ada yang merespons: "Dia siapa kok berani bicara begitu? Dia bukan ahli atau hanya seorang dokter hewan, awas hoaks."
Ketika ditelusuri, seperti yang pernah dibahas di Harian Disway dengan judul "Protokol Rakyat" (2021), dijelaskan bahwa meskipun gelar yang tercantum sebagai dokter hewan, orang tersebut juga mendalami ilmu tentang virus (virologi) di University of Adelaide, Australia. Ia menjadi student by research, yang tidak harus kuliah, tetapi cukup ikut riset di sana bersama profesor-profesor virologi. Hanya karena kurang dikenal dan tidak memiliki gelar akademik yang dianggap memadai (ijazah S-2), sebagian orang menyimpulkan bahwa ia bukan ahli yang layak didengar, dan disimpulkan bahwa ia hanya ahli virus pada hewan, bukan ahli virus pada manusia, karena gelarnya dokter hewan dan bukan dokter manusia.
Dari informasi tersebut, ternyata ketika ditelusuri secara mendalam, adalah berasal dari proses penelitian yang panjang, dan kesimpulan dari hasil penelitiannya pun bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun sayangnya, sebagian tanggapan yang muncul justru berfokus pada siapa yang menyampaikan, bukan pada isi argumentasinya. Kenapa bisa terjadi demikian?
Ketika Kita Lebih Suka Pembenaran daripada Kebenaran
Dalam psikologi, saat seseorang memiliki kecenderungan mempercayai suatu informasi hanya karena disampaikan oleh tokoh terkenal, maka hal demikian dikenal sebagai authority bias. Authority bias bisa berpotensi merusak kemampuan berpikir kritis dan tidak dapat mengembangkan kemampuan menganalisis dengan objektif. Saat sudah terjebak pada authority bias, perilaku yang muncul yakni cenderung mengabaikan bukti atau logika. Seseorang dengan kecenderungan ini juga merasa tidak perlu lagi mencari perspektif lain atau melakukan penelitian lebih lanjut. Sikap authority bias ini menganggap bahwa segala sesuatu yang disampaikan oleh sosok berpengaruh adalah kebenaran, meskipun yang disampaikan tidak sesuai dengan fakta. Selain itu, ketika orang yang dianggap berpengaruh sudah menyampaikan pendapat, ia akan cenderung mempercayai secara penuh, bahkan sampai menolak pendapat atau argumen yang berasal dari sumber lain (Zahro, 2025).
Ketika ada suatu informasi, respons yang muncul ada yang menerima dan ada juga yang menolak. Semua itu bisa terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti: keyakinan, kesukaan, ketidaksukaan, dan kepentingan yang berbeda-beda. Contohnya dalam hal kesehatan sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas. Informasi yang dibaca sama, namun respons yang muncul bisa berbeda.
Selain authority bias, manusia juga bisa rentan mengalami confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari dan menerima informasi yang mendukung keyakinannya sendiri, dan berusaha menghindari informasi yang tidak disukai atau menentang pendapatnya. Hal tersebut terjadi karena secara psikologis, manusia akan merasa nyaman ketika keyakinannya didukung, dan di sinilah objektivitas menjadi sulit. Ketika menilai suatu informasi, banyak orang terjebak pada unsur personal (subjektif).
Untuk memahami mengapa identitas seseorang tidak selalu menentukan kebenaran suatu informasi, maka kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana suatu pengetahuan terbentuk. Dalam salah satu materi berjudul "Metode Memahami Ayat-Ayat Allah (MMAA)", yang penulis pelajari saat hendak mengikuti ujian instruktur, terdapat penjelasan menarik mengenai unsur-unsur pembentukan pengetahuan. Perlu diketahui bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidaklah tiba-tiba muncul dengan sendirinya, melainkan melalui proses, dan dengan variabel berbeda-beda. Variabel terkait atau yang menunjang proses pengetahuan, disebut dengan unsur. Unsur-unsur pengetahuan itu sendiri meliputi:
-
Personal, baik yang berhubungan dengan fisik, agama, suku/kebangsaan, akhlak, tingkat pendidikan, dan lain sebagainya.
-
Ada fakta/masalah/objek yang diamati.
-
Metode memahami fakta.
-
Penyimpulan.
-
Metode menguji penyimpulan.
Di dalam materi MMAA juga dijelaskan bahwa unsur personal sebenarnya tidak banyak memiliki pengaruh dalam pembentukan ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan pembentukan informasi. Justru yang sangat memengaruhi terbentuknya suatu pengetahuan maupun informasi, yaitu unsur yang terkait dengan objek yang dijadikan pengamatan dan metode yang nanti akan digunakan. Jika metode yang digunakan sudah sesuai dengan objek yang diamati, maka dalam proses analisis dan penyimpulannya, akan menghasilkan pengetahuan atau informasi yang kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan.
Mengapa Otak Manusia Mudah Terjebak pada Subjektivitas?
Berdasarkan uraian di atas, kita sudah mengetahui bahwasanya dalam proses pembentukan pengetahuan, unsur personal bukanlah faktor yang paling menentukan benar atau tidaknya suatu informasi. Yang lebih penting adalah fakta yang diamati, metode yang digunakan, serta cara menguji kesimpulannya. Jika memang demikian, lantas mengapa otak manusia mudah terjebak pada subjektivitas?
Hal itu bisa terjadi karena manusia memiliki keterbatasan waktu dan informasi, sehingga pada akhirnya sering menggunakan jalan pintas berpikir (berpikir sederhana). Sehingga reputasi seseorang dijadikan sebagai indikator cepat untuk menilai informasi. Cara ini kadang membantu, tetapi juga bisa menyesatkan.
Agar kita tidak terjebak pada subjektivitas, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menyikapi suatu informasi, dan penilaian yang kita lakukan bisa objektif. Beberapa hal tersebut yaitu:
-
Mengasah kemampuan berpikir kritis.
-
Berpikir terbuka (tidak menutup diri dari pendapat yang berbeda).
-
Mendengar atau mempelajari secara menyeluruh sebelum menilai.
-
Memeriksa pendasaran/alasan yang digunakan.
-
Membedakan antara fakta dan opini.
-
Berani mengoreksi diri jika memang salah.
-
Tidak terburu-buru menyimpulkan.
Dari ketujuh langkah tersebut, yang paling mendasar adalah keberanian untuk tidak tergesa-gesa dalam memberikan penilaian atau kesimpulan. Banyak kesalahan berpikir muncul, bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena manusia belum terbiasa untuk berpikir mendalam dan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Penutup
Kesulitan terbesar dalam mencari kebenaran sering kali bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena berbagai prasangka, kepentingan, dan kecenderungan yang memengaruhi cara kita dalam menilai informasi tersebut. Oleh karena itu, objektivitas bukan sekadar kemampuan memahami fakta, melainkan juga keberanian untuk mengendalikan bias yang ada dalam diri kita sendiri.
Pada akhirnya, ukuran kebenaran tidak terletak pada seberapa terkenal orang yang berbicara, melainkan pada seberapa kuat fakta dan argumentasi yang mendasarinya. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari orang yang paling populer, dan kesalahan tidak selalu berasal dari mereka yang tidak dikenal.
Ada sebuah pepatah dalam bahasa Arab yang bisa kita ambil pelajaran dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu, "Undzur maa qaala wala tandzur man qaala". Artinya adalah "Lihatlah apa yang disampaikan dan janganlah melihat siapa yang menyampaikannya."